Torello
dilahirkan pada tahun 1202 di Poppi, Italia. Hidupnya semasa
kanak-kanak di desa biasa-biasa saja. Tetapi, setelah ayahnya meninggal
dunia, Torello mulai mengubah seluruh cara hidupnya. Ia bergaul dengan
teman-teman yang suka mabuk. Mereka bukannya bekerja, malahan
berkeliaran di kota sepanjang hari. Torello menyukai teman-teman barunya
ini dan berusaha keras mendapatkan pengakuan mereka.
Suatu
hari, ketika ia sedang bermain olahraga di tempat terbuka, seekor ayam
jago terbang turun dari tempatnya bertengger dan mendarat di lengan
Torello. Si jago lalu



Zakharia
adalah seorang biarawan Benediktin dari Yunani yang hidup pada abad
kedelapan. Ia diangkat menjadi kardinal dan kemudian paus. Pada waktu
itu, terjadi peperangan di seluruh negeri Italia. Paus St Zakharia
mengusahakan perdamaian dan menyelamatkan rakyat dari perang yang
mengerikan. Terkadang, ia menanggung resiko kehilangan nyawa dalam
melakukannya.
St.
Matilda dilahirkan sekitar tahun 895, sebagai putri dari seorang
bangsawan Jerman. Ketika masih muda usianya, orangtuanya telah mengatur
pernikahan baginya dengan seorang bangsawan bernama Henry. Segera
setelah mereka menikah, Henry menjadi raja Jerman. Sebagai ratu, Matilda
hidup sederhana dengan meluangkan banyak waktu untuk berdoa. Setiap
orang yang melihatnya akan melihat bagaimana lemah lembut serta baik
hatinya ia. Ia berperan lebih sebagai ibu daripada sebagai ratu. Ratu
suka mengunjungi serta menghibur mereka yang sakit. Ia menolong
orang-orang di penjara. Matilda tidak mau memanjakan dirinya oleh karena
kedudukannya, melainkan ia berusaha untuk memberikan pertolongan kepada
mereka yang membutuhkan. Raja Henry menyadari bahwa isterinya adalah
seorang yang luar biasa. Berulangkali dikatakan raja kepada isterinya
bahwa ia menjadi orang yang lebih baik serta menjadi raja yang lebih
baik oleh karena Matilda adalah isterinya. Walaupun perkawinan mereka
direncanakan oleh orangtua mereka, namun Henry dan Matilda saling
mengasihi satu sama lain.
St.
Eufrasia dilahirkan pada abad kelima dalam keluarga Kristiani yang amat
saleh. Ayahnya, seorang kerabat kaisar, meninggal dunia ketika ia baru
berusia satu tahun. Kaisar menjadi wali bagi dia dan ibunya. Ketika
Eufrasia berusia tujuh tahun, ibunya membawanya ke Mesir. Di sana mereka
tinggal di sebuah rumah yang besar dekat sebuah biara wanita. Eufrasia
terpesona dengan cara hidup para biarawati. Ia memohon kepada ibunya
agar diijinkan melayani Tuhan dalam biara di mana para biarawati kudus
itu tinggal. Ia masih seorang gadis kecil, tetapi ia tidak mau mengubah
atau pun melupakan niatnya itu. Tak lama kemudian, ibunya membawa
Eufrasia ke biara serta mempercayakan pemeliharaannya kepada pemimpin
biara.
Fina
dilahirkan di sebuah kota kecil di Italia bernama San Geminiano. Pada
mulanya, orangtuanya termasuk golongan berada, tetapi kemudian mereka
jatuh miskin. Seraphina, atau Fina, begitu ia biasa dipanggil, adalah
puteri mereka. Fina seorang gadis manis yang lincah. Ia seorang yang
murah hati. Setiap hari Fina menyisihkan sebagian makanannya untuk
diberikan kepada seseorang di kotanya yang lebih miskin darinya. Siang
hari ia menjahit serta memintal untuk membantu keluarganya membayar
hutang-hutang mereka. Malam hari, ia biasa mempergunakan waktunya untuk
berdoa lama kepada Yesus dan Maria.
St.
Eulogius hidup pada abad kesembilan. Keluarganya terpandang dan ia
mendapatkan pendidikan yang baik. Sementara ia belajar dari bahan-bahan
pelajarannya, ia belajar juga dari teladan baik para gurunya. Eulogius
suka sekali membaca dan mendalami Kitab Suci. Hal ini membantunya
mencintai Sabda Tuhan. Ia rindu mewartakan Sabda Tuhan kepada semua
orang. Ketika dewasa, ia menjadi seorang imam dan pemimpin suatu sekolah
yang terkenal.
St
Simplisius dipilih menjadi paus pada tahun 468. Terkadang, tampak
baginya, ia sama sekali sendirian dalam upaya meluruskan kejahatan yang
merajalela. Para penakluk telah mengambil alih wilayah yang luas. Bahkan
Roma sendiri telah diduduki oleh penyerang. Penduduk kelaparan dan
miskin. Mereka telah dibebani pajak yang berat dan dirampok oleh para
pejabat Romawi sebelumnya. Kemiskinan berkuasa di jalan-jalan dan
menghalau segala sukacita. Para penakluk yang baru setidak-tidaknya
tidak membebani mereka dengan pajak. Paus Simplisius mengusahakan segala
daya upaya guna mengangkat taraf hidup masyarakat dan berkarya demi
kebaikan mereka. Ia senantiasa ada di sana bagi mereka, tak peduli
betapa kecil upaya yang dirasa dilakukannya. Dan sebab ia seorang yang
kudus, ia tak pernah menyerah. Lebih dari sekedar perkataan, ia mengajar
melalui teladan hidupnya yang kudus.
St
Fransiska dilahirkan pada tahun 1384. Orangtuanya, Paul Bussa dan
Jacobella de' Roffredeschi, adalah bangsawan yang kaya raya, tetapi
mereka mengajarkan pada Fransiska untuk menaruh perhatian pada sesama
dan mengamalkan hidup Kristiani yang saleh. Ia adalah seorang gadis
kecil yang cerdas. Ketika usianya sebelas tahun, Fransiska
memberitahukan kepada orangtuanya bahwa ia telah memutuskan untuk
menjadi seorang biarawati. Namun, kedua orangtuanya malahan mendorong
Fransiska untuk memikirkan hidup perkawinan. Seperti kebiasaan pada masa
itu, mereka memilih seorang pemuda yang baik untuk menjadi suami
Fransiska. Pemuda itu baru tigabelas tahun usianya.
St. Yohanes dilahirkan di Portugal pada tanggal 8 Maret 1495. Orangtuanya miskin, tetapi mereka adalah orang Kristen yang taat.
Perpetua
dan Felisitas hidup di Kartago, Afrika Utara, pada abad ketiga. Pada
masa itu terjadi penganiayaan yang hebat atas orang-orang Kristen oleh
Kaisar Septimus Severus.
St.
Yohanes Yosef dari Salib dilahirkan di Italia selatan pada tahun 1654,
pada Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke Surga. Ia seorang pemuda
bangsawan, tetapi berpakaian seperti layaknya seorang miskin. Ia
melakukan hal tersebut sebab ia ingin menjadi miskin sama seperti Yesus.
St.
Kasimirus dilahirkan pada tahun 1458, sebagai putera Kasimirus IV, raja
Polandia. Kasimirus adalah seorang dari tigabelas bersaudara. Dengan
bantuan ibunya yang saleh dan pengabdian gurunya, Kasimir memperoleh
pendidikan yang sangat baik.
Beata
Katharina dilahirkan di Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat
pada tanggal 26 November 1858. Ibunya meninggal dunia ketika ia masih
bayi. Ayahnya menikah dengan seorang wanita mengagumkan bernama Emma.
Emma merawat anak kandungnya sendiri, Louise. Ia juga merawat dengan
kasih sayang kedua gadis kecil anak-anak Bapak Drexel dari perkawinannya
terdahulu. Gadis-gadis kecil itu adalah Elizabet dan Katharina. Mereka
menikmati masa kecil yang indah. Meskipun keluarga mereka kaya, mereka
diajar untuk mengasihi sesama. Mereka diajar untuk terutama memberikan
perhatian kepada mereka yang miskin. Dengan cara demikian mereka dapat
menyatakan cinta mereka kepada Tuhan.
Pangeran
Charles dari Flanders, dijuluki “yang Baik” oleh rakyat dalam
kerajaannya. Mereka menyebutnya demikian karena mereka melihat memang
demikianlah ia adanya. Charles adalah putera St. Canute, raja Denmark.
Ia baru berusia lima tahun ketika ayahnya dibunuh pada tahun 1086.
Ketika dewasa, Charles menikah dengan seorang wanita muda yang baik hati
bernama Margareta. Charles seorang penguasa yang lembut serta adil.
Rakyat percaya kepadanya dan kepada kebijaksanaannya. Charles berusaha
untuk menjadi teladan dari apa yang diharapkannya dari rakyatnya.
Paus St Felix III (II) adalah leluhur dari Paus